Batik Quilting Patchwork 

Batik Quilting Patchwork ,Patchwork adalah kerajinan yang menggabungkan potongan kain perca satu dengan lainnya yang memiliki motif atau warna berbeda menjadi bentuk baru. cara menggabungkan bisa dengan manual atau mesin jahit.

Seni Patchwork

Patchwork merupakan seni tradisional dari Amerika serikat, dengan perkembangannya telah meluas keseluruh dunia termasuk indonesia. Dikatakan seni karena patcwork ini membutuhkan sentuhan intuisi yang berbasis keserasian warna. motif yang kaya hingga dapat menciptakan bentuk yang unik atau bahkan bentuk yang tubrukan namun tetap indah. Bahan dasar patcwork biasanya katun, bisa katun impor maupun lokal. Kumpulkan beberapa katun dengan motif berbeda selanjutnya kita potong dengan padu padan  sehingga dapat diciptakan bentuk baru yang spesifik.

Quilting

Berbeda  dengan patchwork, quilting adalah proses menggabungkan patchwork dengan dakron dan kain lapis, dilakukan dengan teknik tusuk Tindas. quilting juga bisa dikerjakan secara manual maupun mesin jahit. Namun agar quilting mendapat hasil yang maksimal harus dikerjakan dengan jahit tangan. Benang quilting saat ini masih diimpor menjadikan hasilnya lebih bernilai dan relatif mahal. Seni patchwork dan quilting menghasikan produk yang beragam mulai dari tas ,tempat tissue, selimut baby, sajadah, hiasan dinding dan bed cover.

 

Batik Quilting Patchwork 

Apakah batik bisa dibuat quilt? Sangat mungkin, dengan dikombinasikan warna polos batik bisa tampil menjadi bedcover yang memukau, Toh batik tidak selalu berwarna coklat, seperti batik pekalongan kaya dengan motif dan warna yang cerah dan unik

 

Kami sudah berpengalaman dalam dunia perbatikan jadi tidak perlu
meragukan kinerja ataupun kualitas produk kami anda dapat memesan batik kami
dengan menghubungi kami di nomor MUNDARSO 0821-3939-2345,
Anda juga bisa melakukan pemesanan secara custom
sesuai  motif yang anda inginkan
dengan harga yang murah dan berkualitas untuk informasi lanjut silahkan hubungi ,

kami siap melayani anda 24jam

“Kualitas adalah Budaya”